Saturday, January 24, 2026

Sony seharusnya jadi Monster Teknologi, Tapi sayangnya …….



Kadang aku kepikiran soal Sony.

Perusahaan ini punya hampir semua hal yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem teknologi raksasa: hardware kelas dunia, konten eksklusif, dan nama besar yang sudah dipercaya puluhan tahun. Tapi anehnya, Sony justru terlihat ragu saat bicara soal ekosistem software.


Di dunia game, misalnya.

Sony punya PlayStation 5, PlayStation Network, dan deretan game eksklusif yang sangat kuat. Namun ketika mereka masuk ke PC, sebagian besar game dirilis melalui Steam. Secara bisnis ini masuk akal—Steam punya basis pengguna yang masif—tapi dari sudut pandang ekosistem, ini terasa seperti peluang yang dilepas.


Bayangkan jika Sony memiliki launcher PC sendiri.

Satu akun PlayStation bisa digunakan lintas perangkat: PS, PC, bahkan handheld. Save game, achievement, dan progres bisa saling terhubung. Apple sudah membuktikan bahwa continuity seperti ini bukan sekadar fitur tambahan, tapi nilai jual utama. Untuk gamer dengan mobilitas tinggi, ini bisa menjadi diferensiasi yang sangat kuat.


Jika fondasi software ini sudah matang, langkah berikutnya menjadi logis.

Sony sebenarnya punya kemampuan untuk mengembangkan OS sendiri dan merilis handheld gaming berbasis x64, semacam Steam Deck versi Sony, yang terintegrasi penuh dengan PlayStation Network. Tantangan terbesarnya bukan teknologi, melainkan konsistensi visi lintas divisi.


Di lini musik, ceritanya serupa.

Sony Music adalah salah satu pemegang lisensi terbesar di dunia. Mereka pernah mencoba masuk ke streaming lewat Music Unlimited, namun gagal bersaing. Padahal, jika Sony menggabungkan layanan streaming musik dengan lini Walkman modern, mereka bisa menciptakan digital audio player yang benar-benar unik: hardware audio premium dengan ekosistem musik bawaan yang solid.


Sementara di industri film, Sony Pictures memilih jalur yang lebih aman.

Alih-alih membangun platform streaming global sendiri, Sony fokus melisensikan kontennya ke platform lain. Strategi ini menguntungkan secara finansial, tapi membuat Sony kehilangan kesempatan membangun hubungan langsung dengan penonton—sesuatu yang kini menjadi aset paling berharga di industri hiburan.


Dari game, musik, hingga film, pola yang muncul sebenarnya sama.

Sony unggul di hardware dan konten, namun cenderung konservatif dalam membangun ekosistem software terpadu. Setiap lini berjalan kuat sendiri-sendiri, tapi jarang benar-benar disatukan menjadi satu pengalaman pengguna yang utuh.


Mungkin ini pilihan strategis.

Atau mungkin ini konsekuensi dari perusahaan besar dengan banyak divisi yang bergerak independen.

Baca selengkapnya

Friday, January 23, 2026

UMKM Bilang Susah Cari Karyawan, Pekerja Bilang Susah Cari Kerja—Yang Salah Siapa?

Karena tergabung di dua grup Facebook—grup UMKM dan grup pencari kerja—cara pandangku jadi sedikit lebih terbuka.

Ini nggak ngebahas perusahaan sekelas PT, lulusan S1, atau profesional. Mereka sudah punya “medan perang” sendiri: JobStreet, LinkedIn, dan platform serupa.


Di sini aku ingin fokus ke kelas UMKM dan SDM lulusan SMA atau di bawahnya.


Yang menarik, dua pihak ini sama-sama mengeluh.

Dari sisi UMKM: “Nyari karyawan susah.”

Dari sisi pencari kerja: “Nyari kerjaan susah.”


Secara logika harusnya saling mengisi. Tapi realitanya, keduanya sering tidak bertemu di tengah.


Jika kita lihat dari sisi pekerja.

Tidak sedikit yang sudah loyal, tapi gaji tidak naik, bonus tidak ada, THR pun kadang tidak jelas. Jam kerja sering overtime. Sementara biaya hidup terus naik. Pada akhirnya mereka punya dua pilihan: bertahan tanpa perubahan, atau keluar mencari peluang lain.


Masalahnya, ketika keluar dan mendapati kondisi di luar tidak jauh berbeda, kekecewaan itu berubah jadi keluhan. Yang akhirnya diarahkan ke pemerintah, kadang ke owner bisnis, tanpa benar-benar tahu di mana letak akar masalahnya.


Di sisi lain, ada juga persoalan mismatch skill.

Pekerja UMKM sering dituntut multi-skill. Contohnya di laundry: menerima pesanan, mengoperasikan mesin, menyetrika, sampai packing. Tidak semua orang siap dengan pola kerja seperti ini.


Dari pengalamanku, sebagian orang lebih cocok mengerjakan satu tugas berulang dibanding rangkaian pekerjaan yang panjang. Akibatnya, ada yang bingung, takut salah, lalu menyerah terlalu cepat. Baru sehari atau seminggu kerja sudah menghilang. Ini membuat owner terus mengulang proses rekrutmen dan training dari nol—melelahkan secara waktu dan energi.


Dari sinilah muncul generalisasi seperti, “anak sekarang mentalnya lemah.”

Padahal akar masalahnya sering kali bukan soal mental, tapi kesiapan skill dan sistem kerja.


Dari sisi owner UMKM sendiri, kondisinya juga tidak mudah.

Harga bahan baku naik, margin makin tipis. Bayangkan jika harus menggaji sesuai UMR—misalnya Surabaya sekitar 4 juta. Warung bakso dengan tiga karyawan sudah menghabiskan 12 juta hanya untuk gaji, belum sewa tempat, bahan baku, listrik, dan biaya lain.


Ditambah lagi, banyak UMKM yang manajemen keuangannya belum rapi. Rekening usaha dan pribadi masih bercampur, kebocoran biaya di mana-mana. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika kesejahteraan karyawan sulit meningkat.


Menurutku, tidak ada pihak yang sepenuhnya salah.

UMKM perlu dibimbing agar lebih efisien dan berkelanjutan, supaya bisa tumbuh dan menyejahterakan pekerjanya.

Pekerja juga perlu diarahkan dan dibekali skill yang sesuai dengan kebutuhan nyata UMKM.


Pertanyaannya:

Apakah kita perlu sebuah aplikasi yang benar-benar menghubungkan UMKM dengan calon pekerja di level ini?

Jika di level profesional ada JobStreet dan LinkedIn, bagaimana jika kelas UMKM punya platform serupa—bukan hanya untuk cari kerja, tapi juga untuk pengembangan skill? Kalo iya, kira2 kalo aku yg ngebuild? Ada yg mau support?

Baca selengkapnya

Thursday, January 22, 2026

Ketika Pegawai Dianggap Anak Buah - Bukan Manusia

Ada orang-orang yang merasa punya superioritas tinggi, lalu tanpa sadar memosisikan orang lain di level yang lebih rendah.

Contohnya pemilik kos yang menganggap penghuninya seperti “anak buah”, atau owner bisnis yang memandang pegawainya bukan sebagai rekan kerja, tapi bawahan mutlak.


Beberapa hari lalu, seorang ibu-ibu lewat dan menyapa,

“Anak buahnya mana?”


Aku sempat bingung. Diam beberapa detik.

Baru kemudian sadar—oh, maksudnya pegawai.


Di situ aku langsung merasa ada yang keliru.

Bagiku, setiap orang itu setara. Yang berbeda hanya perannya.

Owner butuh pegawai, pegawai juga butuh owner. Hubungannya saling, bukan satu arah.

Hormat itu penting, tapi bukan berarti harus merendahkan atau meninggikan diri berlebihan.


Pengalaman ini mengingatkanku pada salah satu alasan kenapa dulu aku memilih resign.

Bukan karena gaji. Bukan juga karena beban kerja.

Tapi karena atasan sudah kehilangan respek.


Saat respek itu hilang, yang ikut hilang adalah hal-hal kecil tapi bermakna:

tidak ada lagi “terima kasih”,

tidak ada lagi kata “tolong”.

Yang tersisa hanya perintah—dan perintah.


Ketika terjadi kegagalan, yang ada bukan evaluasi bersama,

melainkan fokus mencari siapa yang bisa disalahkan.


Beberapa waktu lalu, seorang teman yang baru pindah kerja bercerita.

Ia bilang dirinya terharu hanya karena satu kalimat sederhana dari atasan barunya:

“Terima kasih.”


Kalimat yang, menurut pengakuannya, belum pernah ia dengar di tempat kerja sebelumnya—selama tiga tahun.


Kadang, yang membuat orang bertahan atau pergi bukan hal besar.

Tapi soal dihargai sebagai manusia.

Baca selengkapnya

Monday, November 24, 2025

IT Chapter 2 ending mengkonyol

 


Jadi baru kemarin nonton IT , dengan durasi kurleb 3 jam, expektasi tinggi dong. Dan emang diawal menarik banget, dengan diungkapnya bahwa IT merupakan alien atau paling tidak berasal dari dunia lain, perasaan horor jadi mendadak hilang dan feelnya udah kayak nonton stranger things, dimana Things/It ini adalah monster atau entitas yang bukan berasal dari bumi.

Cuma di ending kenapa jadi mengkonyol. Sejak awal Mike menjelaskan bahwa ingatan itu penting jadi setiap orang di suruh beroencar untuk mencar ingatanya masing2, dimana setiap orang harus mencari 1 benda yang berhubungan dengan ingatan masa lalunya untuk dijadikan tumbal di dalam sebuah ritual. Dan perjalanan setiap orang di masa lalu itulah yang bener bener makan durasi, Paling seru sebenernya story nya di cewek itu si Blev, tapi yang lainya menurut pendapat pribadiku ampas, cuma buang buang waktu saja. Akhirnya smeua itu nggak ada gunanya, ritual cuma jadi sebuah scene konyol aja sih menurutku,pada akhirnya si IT dikalahinya sama dengan di chapter 1, yaitu dengan keberanian. Intinya si IT ini mungkin kekuatanya berasal dari rasa takut, nah inilah kenapa sepanjang waktu dia menghantui setiap orang dengan kenangan kelam di masa lalunya yang menakutkan. Dengan perasaaan takut dari setiap orang inilah dia menjadi semakin kuat dan berubah ubah form nya. Tapi jika semua menjadi berani, justru IT kehilangan kekuatan, ia berubah menjadi sangat lemah. Ini mirip seperti konsep jin/iblis sih dimana ketika kita takut mereka akan makin mengganggu kita, tapi jika kita berani maka mereka tidak akan mampu mengganggu kita. Apalagi si IT ini cuma hanya berani mendatangi satu satu korbanya, mana di tempat gelap lagii.

Balik lagi ke IT, di saat salah satu rekan meninggoi, disitulah semua mc marah dan mulai memberanikan diri, mereka smeua menanamkan sugesti ke IT bahwa dia lemah, dia hanyalah pengecut dan sebagainya, ini membuat IT semakin ragu, takut, dan mulai kehilangan kekuatan. Perlahan mereka membalikkan keadaan dengan membantai si IT. Nah inilah yang menjadi alasan kenapa sejak awal IT selalu berusaha memecah belah semuanya, dengan begitu secara mental manusia akan cenderung takut. Tapi dengan mereka semua berkumpul dan menanamkan sugesti bersama sama disinilah IT sudah kalah mental.

Intinya sih sebenarnya mereka tidak perlu susah payah keliling sana sini, langsung aja tanpa senjata dan apapun mendatangi si IT asal mereka berani dan tidak takut, si IT juga tidak akan bisa melakukan apa apa.



Baca selengkapnya

Tuesday, October 14, 2025

Semua kenangan di Genshin



Genshin itu bukan cuma sebuah Game, tapi itu kenangan, kenangan yang nggak akan pernah terlupa, petualangan yang luar biasa, dan perasaan yang nggak akan pernah sirna. 

Tulisan ini dibuat krn tadi ngeliat sebuah komen di fb yang langsung ngebikin semua kenangan genshin di masa lalu meluap lagi.

Sebenarnya beberapa hari lalu aku mulai comeback main genshin, tanpa alasan tertentu dan tanpa ekspektasi juga, iseng2 aja dah pokoknya.

Aku sendiri udah pensi sekitar mungkin 2 tahunan lebih, awalnya karena pc di jual, ps juga dijual jadi udah nggak ada device buat main lagi. Sebenarnya di hp bisa, cuma ngga nyaman aja sama kontrol nya. Niatnya sih pensi gk lama tapi akhirnya keterusan, sampe akhirnya punya leptop pun tetep aja belum sempet comeback, sampe akhirnya bbrp hari lalu akhirnya mulai kepikiran balik, dan ternyata iseng gacha eh dapat lauma. Tapi krn udah ketinggalan lama banget, storynya jadi kurang ngeh. Selain itu perasaan di genshin rasanya beda, hampa, nggak kayak dulu lagi….


Jadi keinget di masa lalu, tepat 28 september 2020, ini merupakan masa covid. Dan aku emang udah nunggu game ini rilis, pada saat itu emang lagi hype krn gameplaynya disanding2kan dengan zelda. 


Orang2 mungkin kebanyakan main genshin karena lg wfh ato krn lagi nganggur akibat covid, jadi mainin game ini buat ngisi waktu luang. Tapi berbanding terbalik dengan ku. Justru sebelum main genshin aku udahainin berbagai game baik di ps4 maupun di pc, mulai dr horor ke resident evil series, shooter kek cod series, trus far cry series juga, death stranding, division, wwz, pokoknya banyak dah, sampe indie game juga udah nyobain. Wajar, dulu kan gamer akut.

Kemudian di 2020 aku mulai ngerasa burnout, game2 yang kumainin mulai membosankan, kayaknya hari2 main multiplayer battlefield, trus sama lanjutin assassin creed odysei, sesekali the division 2. Feelnya mulai ilang. 

Sampe akhirnya genshin ini muncul, tepat pas hari H rilis, aku langsung install dari ps store, dulu game ini belum punya banyak fitur dan karakter seperti saat ini, buat explore bener2 harus effort, slow phase banget. Bolak balik liyue modstat itu hal biasa, nyebrang laut? Harus ple keiya dan mc, panjat gunung harus sabar apalagi stamina masih pendek. Artefak juga masih berantakan, pedang masih dull blade, di awal awal semuanya berasa banget, gimana kita ngebuild setiap karakter bener2 aku ngerasa kayak tumbuh bersama dengan setiap karakter. Aku inget banget saat awal awal explore pke noel krn takut diserang jd butuh defender, masih bawa barbara buat healing, lisa buat ngasih damage area, trus bawa keya buat ngebekuin musuh pas ujan. 

Sistem elemental, nah ini diawal seru banget, belum se ribet skrg, intinya klo ujan dan kita serang es kita bisa ngebekuin musuh, bisa ngebakar rumput juga, dan berbagai hal lainya, ini seru banget dulu. Kita harus pinter pinter rotasi biar elemental bisa saling ngedukung dan damage jadi lebih besar. 

Inget banget dulu diluc jadi karakter yang di dewa2 kan, benneth masih belum diketahui potensinya, dan mc masih dibutuhin jg untuk explore.


Bagian yang paling serunya, coop, dulu orang orang masih welcome, masih sama2 explore dunia nya, saling berbagi lokasi ches, tips & trick nyelesaiin puzzle, dan bahkan ada quest yang harus diselesaiin berpasangan. Orang2 saling berbagi uid dan meet up hampir setiap hari di dalam game, genshin udah mulai menjadi dunia kedua, inilah efek covid, bayaknya pekerja yang dirumahkan makin menambah jumlah player, jadi genshin bukan haya game yang dimainkan untuk gamers saja, berbagai kalangan pun banyak yang main, apalagi game ini multiplatform, user pc, ps, dan smartphone bisa bertemu di satu dunia, gimana nggak seru coba.


Dulu aku punya banyak temen disini, kita explore bareng, memandangi pemandangan teyvat yang indah, ngebuka ches, nyelesaain tantangan, ngebangun rumah, bahkan sampe curhat, mulai dari masalah kerjaan sampe masalah keluarga, baik player yang sama sama di bali atau pun di luar negeri.


Temen pertamaku dan sesepuh yang pertama kali bantu explore sana sini di teyvat, “Scarlett”, ini juga temen di psn. Seandainya kamu liat ini, “hei, apa kabar? Masih inget? Dulu kita jelajah modstat liyue bareng loh, inget banget dulu kita ke pulau terbang tertinggi (saat itu) di liyue, cuma buat liatin langit dan ngedengerin backsound musik indah di liyue, sambil ngobrol sana sini dan share apa aja yang udah kita jelajahi hari ini. Hei, kapan terakhir kamu login? Dulu padahal kamu gabut, tiap login kamu selalu online,

Masih mood mejelajah? Atau apa sudah sibuk di dunia nyata?”


“Dan kamu Gieraph? Apa kabar? Sudah sibuk dengan real world ya? Masih kerja di kedai kopi? Masih inget dulu kita explore banyak tempat? Saling cerita tentang rumah di dalam pot, saling berbagi mengenai build karakter. Bahkan ngobrolin tentang nenek. Kue yg dulu pernah kamu rekomendasiin itu dimana ya? Kayaknya udah tutup? Dulu kamu beberapa kali undang aku buat mampir ke tempat mu kerja, tapi aku nggak pernah datang, sebenarnya alasanya simple sih, sebagai introvert, aku bingung cara pesan kopinya gimana”



Kenangan adalah satu hal yang membuat genshin berbeda, rilis di waktu tepat. Dengan membawa fitur dan genre yang bisa diterima banyak kalangan. Banyak yang bilang, genshin mulai memudar karena banyak game baru dengan genre mirip yang mulai muncul. Itu ngebukin para player lama berpindah. Tapi khusus aku rasanya nggak, temen2 ku didalam game kebanyaka bukan gamer, beberapa bilang genshin adalah game pertama mereka. Mereka main game karena menurut mereka seru dan jga mereka punya waktu luang, tapi semenjak covid berangsur mereda, wfh sudah nggak berlalu, sosialisasi dunia nyata mulai berangsur pulih. Orang2 yang dulu dirumah aja, sekarang mulai kembali menjelajah dunia nyata, porsi genshin mulai berkurang hingga lama lama akhirnya pensi. Alasanya karena storage, karena hp panas, karena ini itu dan lainya. Padahal karena memang kesibukan dunia nyata aja, akupun begitu.


Aku udah sempat coba game pada awak rilis dilabeli “Genshin Killer” mulai dari tower of fantasy sampe terakhir whutering wave. Tapi nggak ada yg bisa bertahan lama. Feel nya beda, walau game2 baru punya banyak kelebihan, tapi tetap aja nggak seperti feel yang aku rasain di genshin dulu. 


Kalo di analogikan mungkin buat seorang extrovert, mereka datang ke kedai kopi,  nyeruput kopi sambil bicara santai dengan bartender atau pengunjung lainya. Itulah healing mereka. Sedangkan buat aku yang introvert parah, di dunia genshin itu dan ngobrol dan explore santai itu lah healing ku. Rasanya nyaman dan tenang.


Bua para mendingers yang selalu bandingin game satu dan lainya. Nggak penting dah, setiap game punya kekurangan kelebihan. Bahkan jika game terbaru saat ini secara menurut kalian sangat bagus pun, kedepanya bakal ada lagi rilis baru yang lebih bagus, nggak akan ada habis nya. Yang penting itu kenangan, cerita bagaimana kaloan bisa main itu, siapa saja yang berjuang di dalamnya, dan di duniaku. Genshin punya kenangan manis itu. Ia datang di waktu tepat dan suasana tepat. Seandainya saat itu nggak covid, aku nggak yakin Genshin akan sebesar ini. 


Sekarang story Genshin sudah menuju akhir, sedih sih kalo sampe story tamat dan server ditutup, atau story tamat dan di lanjutkan dengan konten sampah. Semoga hoyo bisa membuat formula end game terbaik. 

Baca selengkapnya

Friday, October 10, 2025

Tanah pribadi yang terlanjur menjadi jalanan Aspal


Ngeliat yang terjadi di gwk ini bikin aku jadi inget sebuah cerita. Ada seorang nenek2, dia cerita, dulu punya tanah 17 Are di suatu tempat di denpasar. Dulunya ia bangun rumah dengan halaman luas.
 

Nah para tetangganya dulu ini juga pada ngebangun rumah tapi mepet di batas tanahnya. Jadinya buat akses jalan ia lewat halam si nenek yang emang masih luas. Lambat laun halam nenek ini malah terkesan kayak jalanan umum. Sampe pada akhirnya pun diaspal. Si nenek iklas toh buat bersama juga, kata dia yang penting orang2 tau aja itu tetep tanah dia, bahkan di akta tanah pun juga ada batas jelasnya, jadi walau diaspal setiap tepian jalan, tetep nenek itu yang bersihin dan rawat, ditanamin pohon dan lainya. 

Waktu berlalu, jalanan pun diaspal oleh pemerintah. banyak pendatang yang datang. Orang2 dulu mulai banyak yang pergi, ada yang meninggal, ada yang mgejual tanah/rumahnya dan lainya. Hingga hampir sebagian besar penduduk sekitar berubah. Si nenek masih tinggal di sana. Tapi orang2 nggak tau bahwa jalan yang selama ini mereka lewatin itu bukan jakan umum, melainkan tanah dari si nenek. Beberapa pemuda mulai lah nakal, ada yang buang sampah sembarangan, ada yang mengacak acak tanaman di jalan itu, dan ada juga yang ingin membuat gapura (bahkan tiang sudah ditancap). Tapi nenek itu selalu menghalangi dan menolak setiap usulan. karena ia merasa ini tanahnya, segala nya harusnya izin dulu. Tapi orang2 nggak peduli itu. Akhirnya si nenek ini pun di benci.


Dalam fikiranku, ini benernya si nenek kalo jahat ya, bisa aja dia nutup jalanan. Kan dia yang punya lahan, tapi dia bilang dia nggak sampe hati sih. Tapi selama dia masih hidup, dia ingin ngejaga tanah leluhurnya itu semampunya. Dia cuma mau orang2 tau aja dan nggak sembarangan bertindak dintanah orang, kalo memang mau digunakan untuk apa yang izin dulu.


Nah disini mirip dengan kasus gwk, dimana disini pihak gwk sebagai pemilik tanah ngikutin intrisuf thoughtnya buat nutup jalan, bedanya si nenek masih ada hati nurani buat ngebuka jalan. Btw jalanya ini bukan jalan utama, tapi jalan pintas yang mayan rame, jadi seandainya ditutup nggak kebayang dah ekonomi sekitar yang keganggu.

Baca selengkapnya

Wednesday, May 22, 2024

Nggak ikutan ngutang tapi ikutan di Teror??



Halo temen temen, pernah ada yg ngalamin juga gk? Nggak pernah punya utang, nggak pernah ngerasain duit utang ehh tiba tiba di teror…. 

Jadi gini ceritanya, beberapa hari lalu di ig aku, tiba2 aja ada komen di beberapa fotoku, komen2 nya menggunakan huruf besar, kesanya kek bentak gitu. Intinya sih aku disuruh ingetin salah satu temenku untuk ngebayar utangnya dia, dimana kalo sampe utangnya gk dibayar maka aku bakal disamperin sama orang2 nya dia. 


Karena kaget dan takut diteror makin dalam, aku langsung blok aja deh itu ig nya dia, aku juga udah pastikan nggak ada kontak ato informasi penting yg di link dengan ig ku itu.


Si penagih ini diliat dr akunya sih nggak ada feednya, dan dari bahasa nya sih kayak orang timur ya, dan alhamdulillah nya sih setelah aku blok ya udah nggak ada kejadian hal aneh lainya.


Aku sih kurang tau apa itu emang neror beneran atau jangan itu cuma kerjaan iseng orang doang, kan sekarang emang banyak netizen random ya…


Aku coba langsung pastiin aja sama temenku yg bersangkutan disebut si penagih utang itu, kebetulan udah sekitar sebulanan aku udah nggak ketemu sama dia. Dulu sih kota satu tempat kerja, tapi belakangan dia uda resign dan kita udah nggak pernah ketemu lagi semenjak itu.


Btw selama kota kenal pun seingetku ya nggak pernah sama sekali aku dikasih jatah duit gt, nggak pernah juga party atopun makan2 bareng, ya cuma sekedar temen kerja aja yg hari2 say hai selama di tempat kerja, udah gitu aja, setelah selesai kerja ya udah nggak ada kontak2 an lagi.


Setelah aku coba wa dia, dia pun malah bertanya balik nanya itu siapa. Ya aku bilang aja nggak tau aku juga bingung. Udah gitu aja nggak ada pembahasan lainya. Sekilas sih dia juga seperti nggak tau gt but ya nggak tau jg pastinya gimana, soalnya gk ada respon lagi…


Ya intinya itu aja sih cerita aku, nggak ada yg terlalu serius gt, cuma karena ini pertama kali nya ada yg sampe komen keras gitu di ig, ya aku rada kaget aja. Ngebayangin sih kalo sampe ada yg di teror beneran yang lebih intens gitu, padahal bukan dia yg ngutang. Pasti keganggu banget kan. 


Pinjol ini belakangan ini emang makin meresahkan banget, bukan cuma bagi pengutang, tapi buat setiap kontak yg ada di hp nya si peminjam, walaupun nggak ikutan ngerasain dana pinjaman, tapi ikutan di broadcast teroran juga.


Ini udah jadi rahasia umum gk sih kalo aplikasi pinjam itu bisa ngedetek informasi kontak yg ada di hp si peminjam, dan mungkin saja info sosmed jg, mungkin juga si rentenir dapet info ku dari sosmed nya si temenku dan akhirnya ikutan di teror.


Ya tapi balik lagi ya, bisa aja jangan2 cuma emang iseng aja dan bukan sesuatu yang serius sih, ya gitu aja untuk artikel ini. 

Baca selengkapnya