Contohnya pemilik kos yang menganggap penghuninya seperti “anak buah”, atau owner bisnis yang memandang pegawainya bukan sebagai rekan kerja, tapi bawahan mutlak.
Beberapa hari lalu, seorang ibu-ibu lewat dan menyapa,
“Anak buahnya mana?”
Aku sempat bingung. Diam beberapa detik.
Baru kemudian sadar—oh, maksudnya pegawai.
Di situ aku langsung merasa ada yang keliru.
Bagiku, setiap orang itu setara. Yang berbeda hanya perannya.
Owner butuh pegawai, pegawai juga butuh owner. Hubungannya saling, bukan satu arah.
Hormat itu penting, tapi bukan berarti harus merendahkan atau meninggikan diri berlebihan.
Pengalaman ini mengingatkanku pada salah satu alasan kenapa dulu aku memilih resign.
Bukan karena gaji. Bukan juga karena beban kerja.
Tapi karena atasan sudah kehilangan respek.
Saat respek itu hilang, yang ikut hilang adalah hal-hal kecil tapi bermakna:
tidak ada lagi “terima kasih”,
tidak ada lagi kata “tolong”.
Yang tersisa hanya perintah—dan perintah.
Ketika terjadi kegagalan, yang ada bukan evaluasi bersama,
melainkan fokus mencari siapa yang bisa disalahkan.
Beberapa waktu lalu, seorang teman yang baru pindah kerja bercerita.
Ia bilang dirinya terharu hanya karena satu kalimat sederhana dari atasan barunya:
“Terima kasih.”
Kalimat yang, menurut pengakuannya, belum pernah ia dengar di tempat kerja sebelumnya—selama tiga tahun.
Kadang, yang membuat orang bertahan atau pergi bukan hal besar.
Tapi soal dihargai sebagai manusia.

