Friday, January 23, 2026

UMKM Bilang Susah Cari Karyawan, Pekerja Bilang Susah Cari Kerja—Yang Salah Siapa?

Karena tergabung di dua grup Facebook—grup UMKM dan grup pencari kerja—cara pandangku jadi sedikit lebih terbuka.

Ini nggak ngebahas perusahaan sekelas PT, lulusan S1, atau profesional. Mereka sudah punya “medan perang” sendiri: JobStreet, LinkedIn, dan platform serupa.


Di sini aku ingin fokus ke kelas UMKM dan SDM lulusan SMA atau di bawahnya.


Yang menarik, dua pihak ini sama-sama mengeluh.

Dari sisi UMKM: “Nyari karyawan susah.”

Dari sisi pencari kerja: “Nyari kerjaan susah.”


Secara logika harusnya saling mengisi. Tapi realitanya, keduanya sering tidak bertemu di tengah.


Jika kita lihat dari sisi pekerja.

Tidak sedikit yang sudah loyal, tapi gaji tidak naik, bonus tidak ada, THR pun kadang tidak jelas. Jam kerja sering overtime. Sementara biaya hidup terus naik. Pada akhirnya mereka punya dua pilihan: bertahan tanpa perubahan, atau keluar mencari peluang lain.


Masalahnya, ketika keluar dan mendapati kondisi di luar tidak jauh berbeda, kekecewaan itu berubah jadi keluhan. Yang akhirnya diarahkan ke pemerintah, kadang ke owner bisnis, tanpa benar-benar tahu di mana letak akar masalahnya.


Di sisi lain, ada juga persoalan mismatch skill.

Pekerja UMKM sering dituntut multi-skill. Contohnya di laundry: menerima pesanan, mengoperasikan mesin, menyetrika, sampai packing. Tidak semua orang siap dengan pola kerja seperti ini.


Dari pengalamanku, sebagian orang lebih cocok mengerjakan satu tugas berulang dibanding rangkaian pekerjaan yang panjang. Akibatnya, ada yang bingung, takut salah, lalu menyerah terlalu cepat. Baru sehari atau seminggu kerja sudah menghilang. Ini membuat owner terus mengulang proses rekrutmen dan training dari nol—melelahkan secara waktu dan energi.


Dari sinilah muncul generalisasi seperti, “anak sekarang mentalnya lemah.”

Padahal akar masalahnya sering kali bukan soal mental, tapi kesiapan skill dan sistem kerja.


Dari sisi owner UMKM sendiri, kondisinya juga tidak mudah.

Harga bahan baku naik, margin makin tipis. Bayangkan jika harus menggaji sesuai UMR—misalnya Surabaya sekitar 4 juta. Warung bakso dengan tiga karyawan sudah menghabiskan 12 juta hanya untuk gaji, belum sewa tempat, bahan baku, listrik, dan biaya lain.


Ditambah lagi, banyak UMKM yang manajemen keuangannya belum rapi. Rekening usaha dan pribadi masih bercampur, kebocoran biaya di mana-mana. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika kesejahteraan karyawan sulit meningkat.


Menurutku, tidak ada pihak yang sepenuhnya salah.

UMKM perlu dibimbing agar lebih efisien dan berkelanjutan, supaya bisa tumbuh dan menyejahterakan pekerjanya.

Pekerja juga perlu diarahkan dan dibekali skill yang sesuai dengan kebutuhan nyata UMKM.


Pertanyaannya:

Apakah kita perlu sebuah aplikasi yang benar-benar menghubungkan UMKM dengan calon pekerja di level ini?

Jika di level profesional ada JobStreet dan LinkedIn, bagaimana jika kelas UMKM punya platform serupa—bukan hanya untuk cari kerja, tapi juga untuk pengembangan skill? Kalo iya, kira2 kalo aku yg ngebuild? Ada yg mau support?

Bagikan

Jangan lewatkan

UMKM Bilang Susah Cari Karyawan, Pekerja Bilang Susah Cari Kerja—Yang Salah Siapa?
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.