Saturday, January 24, 2026

Sony seharusnya jadi Monster Teknologi, Tapi sayangnya …….



Kadang aku kepikiran soal Sony.

Perusahaan ini punya hampir semua hal yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem teknologi raksasa: hardware kelas dunia, konten eksklusif, dan nama besar yang sudah dipercaya puluhan tahun. Tapi anehnya, Sony justru terlihat ragu saat bicara soal ekosistem software.


Di dunia game, misalnya.

Sony punya PlayStation 5, PlayStation Network, dan deretan game eksklusif yang sangat kuat. Namun ketika mereka masuk ke PC, sebagian besar game dirilis melalui Steam. Secara bisnis ini masuk akal—Steam punya basis pengguna yang masif—tapi dari sudut pandang ekosistem, ini terasa seperti peluang yang dilepas.


Bayangkan jika Sony memiliki launcher PC sendiri.

Satu akun PlayStation bisa digunakan lintas perangkat: PS, PC, bahkan handheld. Save game, achievement, dan progres bisa saling terhubung. Apple sudah membuktikan bahwa continuity seperti ini bukan sekadar fitur tambahan, tapi nilai jual utama. Untuk gamer dengan mobilitas tinggi, ini bisa menjadi diferensiasi yang sangat kuat.


Jika fondasi software ini sudah matang, langkah berikutnya menjadi logis.

Sony sebenarnya punya kemampuan untuk mengembangkan OS sendiri dan merilis handheld gaming berbasis x64, semacam Steam Deck versi Sony, yang terintegrasi penuh dengan PlayStation Network. Tantangan terbesarnya bukan teknologi, melainkan konsistensi visi lintas divisi.


Di lini musik, ceritanya serupa.

Sony Music adalah salah satu pemegang lisensi terbesar di dunia. Mereka pernah mencoba masuk ke streaming lewat Music Unlimited, namun gagal bersaing. Padahal, jika Sony menggabungkan layanan streaming musik dengan lini Walkman modern, mereka bisa menciptakan digital audio player yang benar-benar unik: hardware audio premium dengan ekosistem musik bawaan yang solid.


Sementara di industri film, Sony Pictures memilih jalur yang lebih aman.

Alih-alih membangun platform streaming global sendiri, Sony fokus melisensikan kontennya ke platform lain. Strategi ini menguntungkan secara finansial, tapi membuat Sony kehilangan kesempatan membangun hubungan langsung dengan penonton—sesuatu yang kini menjadi aset paling berharga di industri hiburan.


Dari game, musik, hingga film, pola yang muncul sebenarnya sama.

Sony unggul di hardware dan konten, namun cenderung konservatif dalam membangun ekosistem software terpadu. Setiap lini berjalan kuat sendiri-sendiri, tapi jarang benar-benar disatukan menjadi satu pengalaman pengguna yang utuh.


Mungkin ini pilihan strategis.

Atau mungkin ini konsekuensi dari perusahaan besar dengan banyak divisi yang bergerak independen.

Bagikan

Jangan lewatkan

Sony seharusnya jadi Monster Teknologi, Tapi sayangnya …….
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.