Showing posts with label Games. Show all posts
Showing posts with label Games. Show all posts

Tuesday, October 14, 2025

Semua kenangan di Genshin



Genshin itu bukan cuma sebuah Game, tapi itu kenangan, kenangan yang nggak akan pernah terlupa, petualangan yang luar biasa, dan perasaan yang nggak akan pernah sirna. 

Tulisan ini dibuat krn tadi ngeliat sebuah komen di fb yang langsung ngebikin semua kenangan genshin di masa lalu meluap lagi.

Sebenarnya beberapa hari lalu aku mulai comeback main genshin, tanpa alasan tertentu dan tanpa ekspektasi juga, iseng2 aja dah pokoknya.

Aku sendiri udah pensi sekitar mungkin 2 tahunan lebih, awalnya karena pc di jual, ps juga dijual jadi udah nggak ada device buat main lagi. Sebenarnya di hp bisa, cuma ngga nyaman aja sama kontrol nya. Niatnya sih pensi gk lama tapi akhirnya keterusan, sampe akhirnya punya leptop pun tetep aja belum sempet comeback, sampe akhirnya bbrp hari lalu akhirnya mulai kepikiran balik, dan ternyata iseng gacha eh dapat lauma. Tapi krn udah ketinggalan lama banget, storynya jadi kurang ngeh. Selain itu perasaan di genshin rasanya beda, hampa, nggak kayak dulu lagi….


Jadi keinget di masa lalu, tepat 28 september 2020, ini merupakan masa covid. Dan aku emang udah nunggu game ini rilis, pada saat itu emang lagi hype krn gameplaynya disanding2kan dengan zelda. 


Orang2 mungkin kebanyakan main genshin karena lg wfh ato krn lagi nganggur akibat covid, jadi mainin game ini buat ngisi waktu luang. Tapi berbanding terbalik dengan ku. Justru sebelum main genshin aku udahainin berbagai game baik di ps4 maupun di pc, mulai dr horor ke resident evil series, shooter kek cod series, trus far cry series juga, death stranding, division, wwz, pokoknya banyak dah, sampe indie game juga udah nyobain. Wajar, dulu kan gamer akut.

Kemudian di 2020 aku mulai ngerasa burnout, game2 yang kumainin mulai membosankan, kayaknya hari2 main multiplayer battlefield, trus sama lanjutin assassin creed odysei, sesekali the division 2. Feelnya mulai ilang. 

Sampe akhirnya genshin ini muncul, tepat pas hari H rilis, aku langsung install dari ps store, dulu game ini belum punya banyak fitur dan karakter seperti saat ini, buat explore bener2 harus effort, slow phase banget. Bolak balik liyue modstat itu hal biasa, nyebrang laut? Harus ple keiya dan mc, panjat gunung harus sabar apalagi stamina masih pendek. Artefak juga masih berantakan, pedang masih dull blade, di awal awal semuanya berasa banget, gimana kita ngebuild setiap karakter bener2 aku ngerasa kayak tumbuh bersama dengan setiap karakter. Aku inget banget saat awal awal explore pke noel krn takut diserang jd butuh defender, masih bawa barbara buat healing, lisa buat ngasih damage area, trus bawa keya buat ngebekuin musuh pas ujan. 

Sistem elemental, nah ini diawal seru banget, belum se ribet skrg, intinya klo ujan dan kita serang es kita bisa ngebekuin musuh, bisa ngebakar rumput juga, dan berbagai hal lainya, ini seru banget dulu. Kita harus pinter pinter rotasi biar elemental bisa saling ngedukung dan damage jadi lebih besar. 

Inget banget dulu diluc jadi karakter yang di dewa2 kan, benneth masih belum diketahui potensinya, dan mc masih dibutuhin jg untuk explore.


Bagian yang paling serunya, coop, dulu orang orang masih welcome, masih sama2 explore dunia nya, saling berbagi lokasi ches, tips & trick nyelesaiin puzzle, dan bahkan ada quest yang harus diselesaiin berpasangan. Orang2 saling berbagi uid dan meet up hampir setiap hari di dalam game, genshin udah mulai menjadi dunia kedua, inilah efek covid, bayaknya pekerja yang dirumahkan makin menambah jumlah player, jadi genshin bukan haya game yang dimainkan untuk gamers saja, berbagai kalangan pun banyak yang main, apalagi game ini multiplatform, user pc, ps, dan smartphone bisa bertemu di satu dunia, gimana nggak seru coba.


Dulu aku punya banyak temen disini, kita explore bareng, memandangi pemandangan teyvat yang indah, ngebuka ches, nyelesaain tantangan, ngebangun rumah, bahkan sampe curhat, mulai dari masalah kerjaan sampe masalah keluarga, baik player yang sama sama di bali atau pun di luar negeri.


Temen pertamaku dan sesepuh yang pertama kali bantu explore sana sini di teyvat, “Scarlett”, ini juga temen di psn. Seandainya kamu liat ini, “hei, apa kabar? Masih inget? Dulu kita jelajah modstat liyue bareng loh, inget banget dulu kita ke pulau terbang tertinggi (saat itu) di liyue, cuma buat liatin langit dan ngedengerin backsound musik indah di liyue, sambil ngobrol sana sini dan share apa aja yang udah kita jelajahi hari ini. Hei, kapan terakhir kamu login? Dulu padahal kamu gabut, tiap login kamu selalu online,

Masih mood mejelajah? Atau apa sudah sibuk di dunia nyata?”


“Dan kamu Gieraph? Apa kabar? Sudah sibuk dengan real world ya? Masih kerja di kedai kopi? Masih inget dulu kita explore banyak tempat? Saling cerita tentang rumah di dalam pot, saling berbagi mengenai build karakter. Bahkan ngobrolin tentang nenek. Kue yg dulu pernah kamu rekomendasiin itu dimana ya? Kayaknya udah tutup? Dulu kamu beberapa kali undang aku buat mampir ke tempat mu kerja, tapi aku nggak pernah datang, sebenarnya alasanya simple sih, sebagai introvert, aku bingung cara pesan kopinya gimana”



Kenangan adalah satu hal yang membuat genshin berbeda, rilis di waktu tepat. Dengan membawa fitur dan genre yang bisa diterima banyak kalangan. Banyak yang bilang, genshin mulai memudar karena banyak game baru dengan genre mirip yang mulai muncul. Itu ngebukin para player lama berpindah. Tapi khusus aku rasanya nggak, temen2 ku didalam game kebanyaka bukan gamer, beberapa bilang genshin adalah game pertama mereka. Mereka main game karena menurut mereka seru dan jga mereka punya waktu luang, tapi semenjak covid berangsur mereda, wfh sudah nggak berlalu, sosialisasi dunia nyata mulai berangsur pulih. Orang2 yang dulu dirumah aja, sekarang mulai kembali menjelajah dunia nyata, porsi genshin mulai berkurang hingga lama lama akhirnya pensi. Alasanya karena storage, karena hp panas, karena ini itu dan lainya. Padahal karena memang kesibukan dunia nyata aja, akupun begitu.


Aku udah sempat coba game pada awak rilis dilabeli “Genshin Killer” mulai dari tower of fantasy sampe terakhir whutering wave. Tapi nggak ada yg bisa bertahan lama. Feel nya beda, walau game2 baru punya banyak kelebihan, tapi tetap aja nggak seperti feel yang aku rasain di genshin dulu. 


Kalo di analogikan mungkin buat seorang extrovert, mereka datang ke kedai kopi,  nyeruput kopi sambil bicara santai dengan bartender atau pengunjung lainya. Itulah healing mereka. Sedangkan buat aku yang introvert parah, di dunia genshin itu dan ngobrol dan explore santai itu lah healing ku. Rasanya nyaman dan tenang.


Bua para mendingers yang selalu bandingin game satu dan lainya. Nggak penting dah, setiap game punya kekurangan kelebihan. Bahkan jika game terbaru saat ini secara menurut kalian sangat bagus pun, kedepanya bakal ada lagi rilis baru yang lebih bagus, nggak akan ada habis nya. Yang penting itu kenangan, cerita bagaimana kaloan bisa main itu, siapa saja yang berjuang di dalamnya, dan di duniaku. Genshin punya kenangan manis itu. Ia datang di waktu tepat dan suasana tepat. Seandainya saat itu nggak covid, aku nggak yakin Genshin akan sebesar ini. 


Sekarang story Genshin sudah menuju akhir, sedih sih kalo sampe story tamat dan server ditutup, atau story tamat dan di lanjutkan dengan konten sampah. Semoga hoyo bisa membuat formula end game terbaik. 

Baca selengkapnya

Thursday, November 23, 2023

Novel Final Fantasy 7 Remake Traces of Two Pasts (Indonesia) Part 5


“Hei, Tifa.” Barret yang meneleponnya, tampak khawatir.

“Hm?”

“Kamu tiba-tiba terdiam. Apa yang merasukimu?"

"Oh maaf. Hanya saja…semua kenangan ini kembali lagi padaku. Sekarang dimana aku?”

“Tentang Midgar yang menjadi sainganmu.”

“Oke, selanjutnya adalah pertemuan yang menentukan dengan Tuanku.”

 

------------------------------------------||-----------------------------------------

 

Dia menghabiskan waktunya sendirian, membaca buku, menjahit, dan memasak, tanpa ada orang lain yang bisa diajak bicara kecuali ayahnya. Tak butuh waktu lama bagi Tifa untuk terbiasa dengan kehidupan ini - ia bahkan telah menikmatinya.

Dia tidak pernah tahu dunia bisa begitu damai, yang membuatnya sadar bahwa mungkin inilah yang disukai Cloud. Mungkin dia suka menyendiri dan sendirian tidak membuatnya merasa kesepian, dan siapa yang bilang bahwa dia tidak bahagia? Dia malu dengan pemikiran arogan itu.

Yang dia lakukan hanyalah menolak melakukan hal-hal yang tidak ingin dia lakukan, atau yang menurutnya terlalu menyusahkan. Dibandingkan dengan dia, Tifa justru sebaliknya. Jika dia memiliki kekuatan untuk tidak memedulikan apa yang dipikirkan orang lain, apa semua akan menjadi berbeda? ada banyak kemungkinan yang tak terbatas.

 

“Tifa,” ayahnya memanggilnya. “Maru hilang lagi. Maukah kamu pergi mencarinya?”

"Apa lagi?"

 

Jika dibiarkan, dia yakin salah satu tetangga mereka akan memberinya makan, atau dia akan pergi berburu burung atau mangsa kecil lainnya sendirian. Dia bertanya-tanya bagaimana perasaan ayahnya jika dia mengatakan kepadanya, “Jangan khawatir, dia akan kembali dengan sendirinya.” Dia membayangkan ekspresinya berubah. Pemilik seperti apa yang tidak mau keluar mencari kucingnya yang hilang? Apa pendapat para tetangga tentangnya? Dan apakah dia tidak akan menyesal jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?

“Maru, kamu dimana?!”

Tidak mudah untuk menjadi seperti Cloud.

Maru sepertinya tidak ada dimanapun di desa, jadi dia memutuskan untuk mencari di dekat pegunungan.

Saat dia berjalan, menatap awan yang melayang di langit, tanpa sadar dirinya sudah berada di Sungai Gunsler. Ada angin sepoi-sepoi yang sejuk. Dia menyadari, sekali lagi, bahwa perhatiannya teralihkan dari pencariannya, jadi dia berbalik untuk pergi… Tapi, karena takut akan terjatuh ke sungai, dia menoleh ke belakang.

 

"Hah?"

 

Di antara pemandangan yang familiar, dia melihat sesosok aneh – entah seorang pemuda atau orang tua – berdiri tegak di tengah arus yang deras. Tubuhnya besar, bahu telanjangnya lebar, dan lengannya lebih tebal daripada yang pernah dilihatnya di desanya. Rambutnya berwarna perak pekat dan diikat ke belakang dengan surai panjang. Cloud juga menumbuhkan rambut belakangnya, tapi rambut pria ini jauh lebih panjang darinya.

Pria itu menguatkan dirinya melawan arus agar tidak hanyut. Dia ingat Emilio pernah mengalami kesulitan ini sekali. Penduduk desa harus mengumpulkan semua tali yang bisa mereka temukan, dan mengirimkan perahu untuk menyelamatkannya. Diputuskan saat itu juga bahwa tidak ada anak di bawah sepuluh tahun yang diizinkan berada di dekat Sungai Gunsler tanpa ada orang dewasa yang ikut serta. Pada musim-musim tertentu, bahkan orang dewasa pun kesulitan berdiri di sungai.

Dia teringat gambaran mengerikan saat Emilio berteriak minta tolong.

 

"Apakah kamu baik-baik saja? Aku akan memanggil seseorang untuk meminta bantuan!”

Setelah itu, Tifa mulai berlari menuju desa.

“Tidak perlu! lihatlah!” Dia mendengar suara pria itu dari sungai.

 

Tifa menghentikan langkahnya, dan berbalik dan menemukan dia berdiri dengan satu kaki diarahkan keatas. Dia berdiri dengan kaki kirinya, sementara kaki kanannya diluruskan, jari-jari kakinya mencapai di atas kepalanya.

Aliran berlumpur itu terbelah menjadi genangan-genangan saat menghantam kakinya. Bahkan tanpa mencobanya sendiri, dia tahu bahwa postur tubuh itu sulit dipertahankan.

Selanjutnya, saat kaki kanannya tampak seperti hendak turun dengan cepat, dia melompat sangat tinggi hingga mencapai batas dari apa yang bisa Tifa lihat. Ia kemudian berlari menyusuri bebatuan yang ada di sepanjang permukaan sungai, dan dengan satu lompatan terakhir dia mendarat tepat di depan Tifa.

Dia mengulurkan tangan besarnya ke arahnya.

“Aku Rosha Zangan. Ayo, jabat tanganku!”

Tifa dengan terpaksa membalas jabat tangannya.

“Aduh!”

Zangan memegang tangannya erat-erat. Apakah orang dewasa seharusnya seperti ini?

"Itu menyakitkan!"

"Aku minta maaf"

Zangan dengan cepat melepaskan cengkeramannya tapi kemudian segera meraih kedua lengannya.

“Hoho!”

Tifa membeku ketakutan. Apakah dia mungkin dalam bahaya?

“Betisnya cukup bagus.”

Tidak, ini tidak bagus!

"Tolong hentikan!" Dia akhirnya bisa meninggikan suaranya. Teriakan protes yang keras itu membuat Zangan mundur darinya, dan dia berhasil melepaskan diri dan melarikan diri.

 

Sesampainya di rumah, Tifa mandi, mencoba membersihkan semuanya. Tifa merasa legah, tak lama kemudian ayahnya kembali ke rumah. Dia menggendong Maru.

“Zonder memberinya makanan di balai kota. Harus memberi pria itu beberapa kata pilihan.”

“Tapi aku senang kita menemukannya.”

Tifa tidak berniat melaporkan kejadian Zangan kepada ayahnya. Jika dia memberitahunya, hanya akan ada satu hasil, dan itu adalah dilarang pergi ke sungai.

 

“Oh, Tifa, ngomong-ngomong… Ada seorang guru bela diri terkenal yang tinggal di desa kami. Aku mendengar dia berkeliling dunia, memperoleh segala macam pengetahuan, dan ingin mengajari kami latihan untuk kesehatan dan umur panjang. Kedengarannya mencurigakan, bukan? Sepertinya dia ingin menunjukkan kepada kita apa yang disebut latihan ini di alun-alun besok. Bagaimana kalau kita pergi dan melihat-lihat bersama?”

"Baiklah. Ayo kita lihat.”

Dia yakin “guru” ini adalah pria mencurigakan di sungai.

 

Baca selengkapnya

Saturday, October 14, 2023

Novel Final Fantasy 7 Remake Traces of Two Pasts (Indonesia) Part 4

 


         Tifa mengangkat tangannya ke jantungnya dan memikirkannya. Ya, tidak salah lagi. Tifa menyukainya. Namun, “kesukaan” yang dimilikinya terhadapnya berbeda dari sekadar ingin menghabiskan waktu berduaan dengannya.

      Cloud memiliki wajah yang cantik. Dia mengingat kata-kata ibunya, dan bagaimana ibunya kemudian berkata, “Yah, menurutku dia bahkan lebih cantik daripada pahlawan hebatmu, Sephiroth.”

      Ibunya membandingkan Cloud dengan seorang Prajurit dari Perusahaan Shinra – yang oleh para pemuda pada masa itu disebut-sebut sebagai pahlawan besar, Sephiroth – sebagai cara untuk memuji Cloud. Tifa ingat berpikir di kepalanya saat itu, “Oh, benarkah?”

  Ya, alasan mengapa jantungnya berdebar kencang sekarang adalah karena Cloud tidak dapat dijangkau, suatu hal yang indah. Seperti bintang-bintang.

 "Terimakasih Ibu." Kegugupannya berkurang; langkah kakinya menjadi lebih ringan. Dia berlari menuju menara air.

 Cloud sudah ada di sana. Dia duduk di perancah, mengayunkan kakinya ke sana kemari. Terakhir kali dia datang ke menara air, mereka masih anak-anak. Nada suara apa yang harus dia gunakan untuk berbicara dengannya? Yah, normal adalah yang terbaik. Tunggu, bagaimana biasanya suaranya?

 "Terima kasih telah menunggu!"

 Apakah itu terdengar terlalu palsu?

     Hal-hal yang Cloud katakan padanya di menara air bukanlah sesuatu yang luar biasa. Dia mengatakan padanya bahwa dia akan meninggalkan kota ketika musim semi tiba. Bahwa dia berbeda dari orang lain. Semua anak laki-laki pada akhirnya mengatakan hal yang sama padanya. Namun meski begitu, dia tidak kecewa.

     Apakah itu karena semacam mantra yang dilemparkan padanya pada malam bintang-bintang berjatuhan? Atau mungkinkah pemandangan Cloud yang tampak sedikit antusias sehingga menurutnya begitu menawan? Janji yang dia sarankan agar mereka buat hanyalah ide sederhana. 

“Hei, berjanjilah padaku sesuatu. Saat kamu menjadi terkenal, dan jika aku terjebak atau dalam masalah, berjanjilah kamu akan datang dan menyelamatkanku.”

Hanya sebuah ide sederhana, namun saat mereka bertukar kata, itu menjadi sebuah janji yang tak tergantikan. Dan malam itulah yang juga membuatnya melihat Cloud, yang ia kagumi, sebagai anak laki-laki biasa. Tifa jatuh cinta pada Cloud. Itu adalah jenis “cinta” yang dia inginkan untuk bersamanya. Itulah yang dia rasakan.

     Saat angin dari Gunung Nibel mulai mereda, teman-teman pesta tehnya berangkat dalam perjalanan mereka. Emilio muncul pada malam sebelumnya untuk memberi tahu dia bahwa dia berjanji akan kembali untuknya, lalu melompat ke truk yang mengangkut peralatan untuk memperbaiki fasilitas dan meninggalkan desa, mencondongkan tubuh ke luar jendela dan melambaikan tangan sepanjang perjalanan.

      Sementara itu, sebuah helikopter datang untuk Lester dan Taylor. Itu adalah hak istimewa yang diperuntukkan bagi kandidat yang mendaftar di Perusahaan Shinra. Lester mengucapkan pidato perpisahannya dengan penuh semangat, dan kemudian dengan penuh semangat menariknya ke dalam pelukan. Sementara itu, Taylor gelisah di belakangnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Waktu hampir habis, dan Tifa malah mengulurkan tangan untuk memeluknya. Taylor pasti membenci Lester, yang dilihatnya memeluk gadis-gadis lain yang datang untuk mengantarnya pergi.

      Saat cuaca berubah hangat, Cloud pun meninggalkan desa. Tifa mendengar dia menumpang truk Tentara Shinra yang datang larut malam. Karena beberapa masalah dengan dokumennya, pendaftarannya tertunda, dan helikopter yang seharusnya datang menjemputnya terlibat di tempat lain, dalam pertempuran.

      Mereka tidak mendapat kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal satu sama lain, membuat rencana untuk bertemu lagi, atau bahkan sekadar berpelukan. Prediksinya benar. Tifa tertawa sendiri. Dia tersenyum, lalu air matanya jatuh.

     Saat Nibelheim diselimuti keheningan, Tifa menginjak usia tiga belas tahun. Ayahnya mengadakan perayaan besar untuknya. Namun tidak ada satupun kartu ulang tahun yang datang dari anak laki-laki yang meninggalkan desa tersebut. Mungkin mereka terlalu sibuk mengejar kehidupan baru sehingga melupakannya. Dia mengusir kesepiannya dengan pemikiran itu.

 

Lanjut ke part 5

Baca selengkapnya

Friday, October 13, 2023

Novel Final Fantasy 7 Remake Traces of Two Pasts (Indonesia) Part 3


“Anak-anak terus membicarakan Midgar sehingga akhirnya Aku menganggap Midgar sebagai saingan Aku. Aku ingin memakai busana terkini yang dikenakan gadis-gadis di sana, jadi Aku meminta seseorang yang pandai menjahit untuk membantu Aku membuatnya. Dan itu pasti kain yang tidak bisa kami dapatkan dari toko umum kami. Aku bahkan belajar cara membuat kue manisan. Sampai saat itu, aku rasa aku belum pernah mencoba menarik perhatian laki-laki mana pun.” 

 

“Menjadikan Midgar sainganmu, ya? Aku suka itu tentangmu, Tifa.” Itu adalah Barret Wallace, yang tidak mereka sadari berada tepat di belakang mereka. 

Musim semi ketika teman-temannya mengatakan mereka akan meninggalkan kota telah tiba. Waktu mereka bersama akan segera berakhir. Firasat akan hal yang akan datang ini membuatnya secara tak terduga menjadi emosional.

  Larut malam itu, Tifa memutuskan untuk membuat kue. Dia ragu-ragu apakah dia harus membuat kue, tapi kue sepertinya lebih cocok untuk acara tersebut dan akan membuat Musim Semi ini berkesan bagi mereka.

  Dia segera memeriksa dapur, mencatat semua bahan yang hilang, lalu berlari ke toko umum milik keluarga Emilio.

  Saat dia berdiri di depan toko, dia merasakan tatapan seseorang di punggungnya. Dia berbalik dan melihat Cloud Strife. Mata mereka bertemu.

 

Biasanya kalau itu terjadi, dia akan membuang muka dan lari entah kemana, tapi hari ini Cloud tampak berbeda. Dia melihat mulutnya bergerak.

  Dia mengatakan sesuatu tapi Tifa tidak bisa mendengarnya. Dia memiringkan kepalanya ke samping. Gerakan itu menyebabkan Cloud mendekat ke arahnya, dan dia secara naluriah bersiap untuk melarikan diri.

 Dia berhenti tepat ketika dia hendak menabraknya, dan berseru, “Tengah malam. Di Menara Air.”

 "Oke." 

Ketika dia mendengar tanggapannya, Cloud berlari seolah-olah dia berusaha menghindarinya. Dia tidak perlu melakukan itu, pikirnya, karena dia sendiri dengan panik melarikan diri darinya untuk pulang.

  Bahan-bahan! Dia lupa membeli bahan-bahannya! Ayahnya mengawasinya dengan ekspresi bingung, tapi dia berpura-pura kesal karena sesuatu untuk menghindari pertanyaan apa pun, dan pergi ke kamarnya di mana dia bisa menenangkan diri.

  Maru berada di atas tempat tidur, dan dia mengangkatnya dan memeluknya saat dia tenggelam ke lantai. Jantungnya berdebar kencang. Tidak, itu bukan hanya karena dia berlari.

  Kapan terakhir kali mereka berbicara satu sama lain? Ya itu betul. Maru hilang beberapa kali setelah pelarian pertamanya ketika Cloud menemukannya dan memberinya perlindungan. Hal itu terjadi berkali-kali setelah itu hingga Tifa sadar, jika dibiarkan, dia akan kembali sendiri setelah beberapa hari. Tapi, tetap saja, setiap kali dia hilang, dia keluar mencarinya. Dia tidak diperbolehkan keluar terlalu sering, tapi ada monster yang berkeliaran di pegunungan itu… 

Ketika dia berada di gerbang gunung, mencari Maru dan memanggil namanya, dia melihat Cloud berjalan turun. Dia memperhatikannya juga tetapi menolak untuk melihatnya.

 “Aku melihat Maru. Tepat di tempat kamu akan melangkah,” kata Cloud sambil melewatinya.

 "Terima kasih."

 Cloud kembali menuju desa tanpa berhenti, namun akhirnya berbalik dan berkata kepadanya, “Apakah kamu tidak memberinya makan? Aku melihatnya memakan seekor burung.”

 "Aku memberikan makan!"

 Sebagai protes sengit, dia menyerbu ke pegunungan, dan benar saja di sana ada Maru dengan mulutnya berlumuran darah.

 "Kapan itu?"

 Maru ada di pangkuannya. Dia mengelusnya, dan dia mendengkur dengan mata setengah tertutup karena kebahagiaan.

 Ketika mereka masih muda, dia dan Cloud sering bermain bersama. Rumah mereka bersebelahan, dan mudah untuk bolak-balik.

 “Cloud mempunyai wajah yang cantik,” ibunya pernah memujinya di meja makan. Apakah itu terjadi ketika dia berusia tujuh tahun, atau delapan tahun? Entah kenapa pujian itu membuatnya merasa senang dan sedikit malu.

  Ibunya memberinya kedipan mata, yang tidak luput dari perhatian ayahnya – dia merengut pada mereka. Momen ini menjadi salah satu kenangannya tentang kehidupan keluarganya sebelum ibunya meninggal.

 

Kapan Cloud mulai menjauh dari semua orang? Apakah terjadi sesuatu antara dia dan anak laki-laki lainnya? Yang jelas dalam benaknya, hal itu pasti ada hubungannya dengan kejadian bencana yang terjadi karena kematian ibunya itu. Tapi dia berhenti datang untuk bermain bahkan sebelum itu.

 "Kenapa ya…"

  Sambil menggendong Maru, dia pergi ke jendelanya, di mana dia melihat menara air di tengah desa. Jika mereka bertemu di sana, semua orang mungkin melihatnya. Oh, jadi itu sebabnya dia ingin bertemu dengannya di tengah malam. Saat itu semua orang sudah tertidur.

  Jam berapa tengah malam lagi? Jam dua belas malam, kan? Apakah Cloud benar-benar percaya bahwa dia bisa memahaminya begitu saja?

 “Cloud itu…Yah, sudahlah.”

 Tidak ada gunanya bermain tebak-tebakan sekarang.

 “Hei, menurutmu apa yang harus aku pakai?”

 Maru sama sekali tidak tertarik. Dia melompat dari pelukannya dan berjalan menuju tempat tidur.

 Ada ketukan di pintunya, dan dia mendengar suara ayahnya.

 “Tifa?” 

Dia membuka pintu, dan melihatnya berdiri di lorong, berkedip mengantuk.

 

“Aku akan tidur lebih awal malam ini. Perbaikan jembatan tali membuat kami mendapat masalah akhir-akhir ini.”

 "Baiklah Aku mengerti. Silakan istirahat.”

 "Oh." Dia tampak tidak nyaman.

 "Apa yang salah?" 

“Suasana hatimu sedang buruk sebelumnya.” 

“Kalau kamu ngomong seperti itu tentu membuatku bad mood,” Tifa tertawa. 

“Baiklah, begitu.” 

Ayahnya juga tertawa. Dia mengucapkan selamat malam padanya, dan kemudian kembali ke kamar tidurnya. 

Saat dia memilih pakaian apa yang akan dikenakan, dia sadar bahwa ini akan menjadi pertama kalinya dia menyelinap keluar pada tengah malam di belakang punggung ayahnya, dan dari semua orang, dia adalah Cloud Strife! Malam ini istimewa. Semangatnya melonjak. Tidur adalah hal terakhir yang ada di pikirannya. 

Setelah berpakaian, Tifa melirik ke luar jendela. Sudah hampir waktunya. Namun, tidak seperti yang dia bayangkan, masih banyak jendela yang menyala. Tidak ada pemandangan Cloud di dekat menara air. Dia mematikan lampunya s dan keluar.

  Maru mencoba mengikutinya keluar, jadi dia membawanya kembali ke kamarnya dan menutup pintu di belakangnya.

  Sambil mendekat, dia mendengarkan di pintu kamar ayahnya. Dia mendengkur dengan tenang. Dia berjinjit ke bawah, berhati-hati dalam setiap langkah. Setelah melewati ruang tamu, dia membuka pintu masuk. 

Saat dia melangkah keluar, dia menarik napas dalam-dalam. Langit dipenuhi bintang-bintang, bintang-bintang yang tampak seperti berjatuhan di sekelilingnya.

  Apakah Cloud menunggunya di menara air itu, memikirkannya dengan emosi khusus, emosi yang lebih dari sekadar persahabatan? Akankah cloud mengakui perasaan itu pada tifa? Jika itu masalahnya, bagaimana tanggapannya?

 Apakah Tifa menyukainya?

 

Lanjut ke part 4

 

Baca selengkapnya